Semangat Papa Ibal Mulai dari Mengolah Kompos hingga Menyemai Harapan Baru di Desa Bakan

BAKAN — Tangan Insanu, atau yang akrab disapa Papa Ibal, tampak cekatan mengaduk campuran bahan di halaman rumah produksi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM). Sesekali ia berhenti, memperhatikan tekstur, lalu bertanya kepada pendamping sebelum kembali melanjutkan proses. Keringat yang membasahi wajahnya tak mengurangi fokus, justru menunjukkan keseriusan seorang warga yang tengah belajar sesuatu yang diyakininya akan membawa perubahan.

Di tengah pelatihan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) yang digelar di Desa Bakan sejak 28 Maret 2026, Papa Ibal bukan sekadar peserta. Ia adalah gambaran dari semangat warga yang ingin beranjak dari kebiasaan lama menuju cara baru yang lebih mandiri.

Bacaan Lainnya

“Ini ternyata bukan hanya soal bikin pupuk biasa. Ada ilmunya, ada nilai ekonominya juga,” ujarnya sambil tersenyum ringan.

Sebagai Ketua Kelompok POP Desa Bakan, Papa Ibal merasakan langsung bagaimana pelatihan ini mengubah cara pandangnya. Ia mulai melihat bahwa kegiatan sederhana yang selama ini dianggap sepele, justru bisa menjadi peluang untuk meningkatkan penghasilan masyarakat.

Namun, di balik optimisme itu, ia tidak menutup mata terhadap tantangan. Menjaga konsistensi anggota kelompok menjadi pekerjaan tersendiri. “Sebagian masih fokus di pekerjaan utama seperti berkebun, jadi belum semua bisa aktif. Tapi saya merasa punya tanggung jawab untuk tetap menggerakkan mereka,” katanya.

Bagi Papa Ibal, peran ketua bukan sekadar mengatur, tetapi juga memastikan semangat kelompok tetap hidup. Ia menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi sekaligus, melainkan harus dibangun perlahan, dari kesadaran hingga kebiasaan baru.

Pelatihan yang memadukan teori dan praktik menjadi kunci dalam proses ini. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi langsung terlibat dalam pembuatan POP, mulai dari mengenal bahan hingga proses pengolahan.

Dengan sekitar 11 jenis bahan yang sebagian besar mudah ditemukan di lingkungan sekitar, metode ini dinilai cukup realistis untuk diterapkan secara mandiri. Bahkan, dalam satu siklus produksi, kelompok ini berpotensi menghasilkan hingga 30 ton pupuk dalam waktu sekitar tiga bulan. “Kalau lihat prosesnya, kami sebenarnya sudah bisa lanjut sendiri. Tinggal bagaimana kami konsisten,” ungkap Papa Ibal.

Optimisme itu semakin menguat ketika peluang pasar mulai terlihat. Saat praktik berlangsung, sudah ada pihak yang menunjukkan ketertarikan untuk membeli hasil pupuk yang diproduksi. “Jadi ini bukan cuma untuk dipakai sendiri. Ada peluang untuk dijual juga,” tambahnya.

Dari sisi pemerintah desa, pelatihan ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi warga, khususnya di sektor pertanian. Sekretaris Desa Bakan, Subagio Mokoagow, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal.

Sementara itu, bagi JRBM, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. General Manager Eksternal Relation and Security JRBM, Andreas Saragih, menegaskan bahwa program ini lahir dari inisiatif masyarakat yang kemudian didukung oleh perusahaan.

“Harapannya, masyarakat tidak lagi terlalu bergantung pada pupuk kimia yang mahal. Dengan POP, mereka punya alternatif yang lebih terjangkau dan bisa diproduksi sendiri,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi oleh komitmen bersama untuk terus menjalankannya.

Di Desa Bakan, pelatihan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi Papa Ibal dan kelompoknya, ini adalah awal dari perjalanan panjang, dari sekadar mengaduk bahan kompos, menuju upaya membangun kemandirian yang tumbuh dari tangan mereka sendiri. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *