Hajan Paputungan pernah berada di masa ketika kebun kakaonya tidak lagi memberi harapan. Hasil panen terus menurun, hama merusak tanaman, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan. Namun petani asal Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, itu memilih tetap bertahan di kebun saat banyak orang mulai menggantungkan hidup pada tambang emas.
HARI itu, Hajan Paputungan sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar naik. Tangannya pelan membuka buah kakao yang menguning di batang pohon, lalu menumpahkan bijinya ke dalam karung di sampingnya. Di sela pekerjaannya, lelaki 50 tahun asal Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow itu sesekali tersenyum sendiri. Sulit baginya membayangkan, kebun yang dulu nyaris membuatnya menyerah kini justru menjadi penopang hidup keluarganya. Padahal beberapa tahun lalu, hidup Hajan jauh dari kata tenang.
Ia pernah berada di titik ketika hasil kebun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kakao lokal yang ia tanam sering diserang hama. Buah rusak sebelum dipanen. Hasilnya sedikit, sementara biaya hidup terus berjalan. Untuk membiayai sekolah anak, ia mengaku pernah berutang ke sana-sini. Bahkan, menjual kebun sempat terlintas di pikirannya.
“Dulu panen kecil sekali. Kadang sudah rawat lama, tapi hasilnya tidak sesuai harapan,” kenangnya.
Sebagai warga desa lingkar tambang, Hajan sebenarnya tahu betul bagaimana banyak orang memandang kampung mereka. Selama ini, kawasan sekitar tambang sering dilekatkan dengan aktivitas tambang emas manual dan ilegal. Seolah-olah masyarakat di desa-desa itu tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup selain menggantungkan nasib pada lubang tambang. Tetapi Hajan memilih jalan berbeda. Ia tetap bertahan sebagai petani.
Keputusan itu tidak mudah. Menjadi petani kakao di kampungnya kala itu bukan pekerjaan yang menjanjikan. Banyak warga mulai kehilangan keyakinan karena hasil panen yang terus menurun. Sebagian memilih meninggalkan kebun. Sebagian lagi mencoba pekerjaan lain yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang.
Hajan nyaris ikut menyerah sampai akhirnya pada 2019 ia mendengar tentang program budidaya kakao dari PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).
Awalnya ia ragu. Terlalu sering ia mendengar cerita bantuan yang berhenti di tengah jalan. Namun dorongan datang dari sang kakak yang saat itu baru kembali dari studi banding perkebunan kakao di Palu. Dari sana, Hajan mulai percaya bahwa kakao sebenarnya masih punya masa depan jika dikelola dengan benar. Ia lalu memberanikan diri mengajukan bantuan bibit.
Dari program itu, Hajan menerima sekitar 300 bibit kakao unggul. Tetapi yang paling ia rasakan bukan sekadar bantuan bibit. Ia mendapat pendampingan langsung tentang cara menanam, merawat tanaman, mengatasi hama, hingga penggunaan pupuk dan obat-obatan yang tepat.
“Jadi bukan cuma dikasih bibit lalu selesai. Kami diajari sampai paham,” katanya.
Perlahan, kebun Hajan berubah. Pohon-pohon kakao yang dulu kurus mulai tumbuh lebih sehat. Buahnya lebih banyak. Serangan hama yang sebelumnya menjadi momok kini mulai bisa dikendalikan. Hajan bahkan mengganti sebagian besar tanaman kakao lokal miliknya dengan bibit unggul yang ia dapatkan dari program tersebut.
Hasilnya benar-benar di luar perkiraannya. Produksi kebunnya meningkat hingga beberapa kali lipat dibanding sebelumnya. Dari kebun itulah ekonomi keluarganya mulai bangkit. Ia tidak lagi memikirkan utang untuk biaya sekolah anak. Penghasilan dari kakao perlahan membuat hidup mereka lebih stabil.
“Sekarang saya bisa sekolahkan anak tanpa harus pinjam uang lagi,” ujarnya.
Bagi Hajan, keberhasilan itu bukan hanya soal uang. Ada kebanggaan yang tumbuh karena ia berhasil membuktikan bahwa hidup layak juga bisa datang dari kebun, bukan hanya dari tambang.
Di tengah kuatnya stigma tentang desa lingkar tambang, kisah Hajan menjadi bukti bahwa masyarakat sebenarnya punya potensi besar di sektor pertanian jika diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat.
Dan Hajan bukan satu-satunya. Di Matali Baru dan sejumlah desa lain, mulai banyak petani mengikuti jejak yang sama. Mereka kembali membuka kebun, menanam kakao, dan perlahan mempercayai bahwa tanah mereka sendiri sebenarnya mampu memberi kehidupan.
Bagi Hajan, kebun kakao hari ini bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia membangun harapan baru untuk keluarganya.
“Kalau dirawat baik, kebun ini bisa jadi masa depan,” katanya sambil memandang pohon-pohon kakao yang berjejer di lereng kebunnya.*







