Ada pengurus yang harus diajak duduk bersama. Ada kader yang perlu diyakinkan. Ada komunikasi internal yang mesti dirapikan.
Dan ada kerja politik di tengah masyarakat yang pada akhirnya menjadi ukuran apakah sebuah partai benar-benar hadir atau sekadar sibuk dengan urusan internal.
Rendy menyadari itu. Menurut dia, konsolidasi tidak berhenti pada penataan struktur organisasi.
Komunikasi dan koordinasi dengan seluruh jajaran pengurus serta kader menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
“Harapannya, seluruh kader dapat bersama-sama membesarkan Partai Gerindra dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Di balik pernyataan tersebut terselip satu pesan: kekuatan partai tidak berada pada seorang ketua.
“Kekuatan partai ada pada soliditas seluruh kader,” kata Rendy.
Kini, kalimat itu akan diuji di Kotamobagu. Sebagai Plt, Rendy berada dalam posisi yang menarik.
Ia memiliki mandat untuk menjalankan roda DPC, tetapi pada saat yang sama statusnya menunjukkan bahwa kepemimpinan tersebut bersifat sementara.
Ruang geraknya karena itu bukan hanya soal menjalankan program partai, melainkan juga membangun kepercayaan.
Di politik lokal, kepercayaan adalah modal yang mahal. Kotamobagu merupakan salah satu wilayah penting dalam peta politik Sulawesi Utara.
Di kota ini, partai-partai politik tidak hanya berhadapan dengan pemilu. Mereka berhadapan setiap hari—melalui jaringan kader, tokoh masyarakat, komunikasi politik, kegiatan sosial, hingga perebutan pengaruh di tengah pemilih.
Gerindra tentu tidak ingin sekadar menjadi penonton.
Karena itu, mandat kepada Rendy dapat dibaca sebagai upaya merapikan rumah sebelum kembali menghadapi medan politik.
Struktur harus kuat. Kader harus solid. Komunikasi harus lancar. Mesin organisasi harus bekerja dari tingkat atas hingga bawah.
Tidak ada partai yang bisa memenangkan pertarungan hanya dengan mengandalkan nama besar. Dibutuhkan barisan yang terorganisasi. Rendy kini berada di depan barisan itu.
SK yang diterimanya di Manado menjadi tanda resmi dimulainya tugas tersebut. Setelah seremoni selesai, pekerjaan politik yang sesungguhnya justru baru dimulai.
Dia harus turun, mengetuk pintu-pintu internal partai, menyatukan kepentingan yang mungkin berbeda, dan memastikan Gerindra berbicara dengan satu suara. Soliditas tidak cukup diucapkan. Dia harus dibuktikan.***




