Pelatihan Kakao Siswa Bolsel, Menumbuhkan Ilmu Membangun Masa Depan

BOLSEL — Suasana balai desa yang biasanya lengang berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Tangan-tangan muda memegang batang kakao, mengamati teknik sambung pucuk dengan saksama, sementara catatan kecil penuh sketsa dan istilah baru terus ditulis.

Pelatihan teknis budidaya kakao yang digelar PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) ini bukan hanya milik petani binaan. Ini juga menjadi panggung pembelajaran bagi generasi muda lingkar tambang.

Bacaan Lainnya

Tiga titik pelatihan tersebar di Desa Dumagin B, Tobayagan, dan Dumagin A sepanjang bulan April 2025. Selain para petani dari kelompok tani binaan JRBM, siswa SMP dan SMK turut hadir dan ikut aktif dalam proses belajar lapangan. Mereka datang dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan pulang dengan semangat baru untuk terjun ke dunia pertanian.

“Saya pikir sebelumnya pertanian itu kotor, capek, dan hanya untuk orang tua. Tapi setelah ikut pelatihan ini, saya lihat ternyata pertanian itu bisa jadi profesi yang modern dan penting,” ujar Arik Podomi, siswa SMPN Tobayagan. Arik bersama tiga temannya dan satu guru pendamping hadir dalam pelatihan di Balai Desa Tobayagan, 20 April 2025. Ia bahkan sudah membayangkan menanam sendiri bibit kakao sambung pucuk di halaman rumah.

Pengalaman berbeda namun tak kalah menarik juga dialami Rina, siswi SMK jurusan pertanian yang ikut pelatihan di Balai Desa Dumagin A. Bersama sembilan rekannya dan dua guru, Rina terlibat langsung dalam praktek budidaya kakao dan diskusi bersama petani. “Kami belajar dari para petani juga, mereka sudah pengalaman. Tapi saya merasa ilmu sekolah saya jadi lebih lengkap setelah ikut ini,” katanya. “Saya ingin buka kebun sendiri nanti, siapa tahu bisa jadi pengusaha kakao.”

Para siswa ini tidak datang secara kebetulan. Mereka dipilih mewakili setiap kecamatan lingkar tambang, seperti Pinolosian Tengah dan sekitarnya. Bagi sekolah dan guru pendamping, keterlibatan dalam pelatihan ini menjadi tambahan materi nyata yang sulit ditemukan di ruang kelas.

“Sangat bagus untuk membangun rasa cinta anak-anak terhadap pertanian. Mereka jadi melihat langsung bahwa bertani itu bisa dilakukan secara ilmiah dan profesional,” ujar salah satu guru SMK yang mendampingi.

Meski sorotan banyak tertuju pada antusiasme para siswa, pelatihan ini tetap melibatkan kelompok-kelompok tani binaan JRBM sebagai peserta utama. Kelompok tani Dumagin B dan Motandoi, Tobayagan dan Tobayagan Selatan, serta Karang Taruna Dumagin A aktif terlibat. Bagi mereka, pelatihan ini adalah momentum untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan memperkuat teknik pertanian yang berkelanjutan.

“Adik-adik siswa ini justru memberi semangat baru. Kami yang lebih tua jadi merasa termotivasi melihat mereka serius belajar kakao,” ujar Andi, anggota kelompok tani Dumagin B yang mengikuti pelatihan pertama pada 13 April 2025.

Materi pelatihan disampaikan oleh Ronni Kobandaha, sosok yang sudah tak asing lagi di kalangan petani sebagai Profesor Kakao. Dengan pendekatan sederhana dan penuh praktek, Ronni mengajak peserta mengenal teknik sambung pucuk, manajemen bibit, serta pentingnya pupuk organik. Ia juga berbagi kisah kolaborasinya bersama Robbyn Stevan Memengko (Robin), ahli pupuk organik yang telah bersama JRBM sejak 2023 dalam program pengembangan pertanian kakao.

Manajer CSR PT JRBM, Muh. Rudi Rumengan, yang membuka kegiatan ini secara langsung, menekankan bahwa keterlibatan pelajar dalam program ini bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari strategi jangka panjang untuk regenerasi sektor pertanian.

“Pendidikan formal penting, tetapi pengalaman lapangan seperti ini akan membekas dan membentuk cara pandang mereka terhadap pertanian. Kami ingin membangun keberlanjutan, dan itu tidak mungkin tanpa anak muda yang melek teknologi dan peduli pada tanahnya sendiri,” ujar Rudi.

Menurutnya, kolaborasi antara petani binaan dan pelajar juga menjadi jembatan pengetahuan dua arah, pengalaman bertemu inovasi. “Kami melihat potensi besar ketika kelompok tani bisa menjadi mentor sekaligus mitra belajar bagi siswa. Harapan kami, dari pelatihan ini lahir petani-petani muda yang tidak hanya tahu cara tanam, tapi juga mampu berpikir wirausaha,” tambahnya.

Hari itu, ketika pelatihan berakhir, para siswa masih tampak sibuk bertanya dan berdiskusi. Tak sedikit yang meminta bibit untuk dibawa pulang. Pelatihan ini mungkin hanya berlangsung sehari di setiap titik, namun ilmu dan semangat yang tumbuh di dalamnya bisa jadi akan bertahan jauh lebih lama, mungkin hingga satu dekade ke depan, ketika para siswa itu kembali bukan sebagai peserta, tapi sebagai pelatih, atau bahkan pengusaha kakao muda dari lingkar tambang.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *