BOLMONG – Pagi di site Bakan selalu dimulai dengan ritme yang sama: suara mesin, pergerakan alat berat, dan target produksi yang menunggu untuk dicapai. Namun, jauh sebelum semua itu bergerak, ada satu proses yang sudah lebih dulu berjalan sunyi, penuh perhitungan, dan menentukan arah. Di situlah peran seorang mine planner dimulai.
Bagi Subiarto Putra Manangin yang lulus dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta pada 2018 lalu, ritme itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bagian dari proses panjang yang telah ia jalani selama hampir tujuh tahun bersama JRBM. Perjalanan itu dimulai pada 23 Juni 2019, saat ia bergabung sebagai peserta Fresh Graduate Development Program (FDP) Mining, sebuah fase di mana ia belajar memahami tambang dari dasar, menyerap pengalaman, dan membangun fondasi sebagai seorang engineer.

Seperti banyak perjalanan karier lainnya, jalannya tidak selalu lurus. Pandemi sempat mengubah rencana, membuatnya harus memperpanjang masa pengembangan sebelum akhirnya resmi menjadi karyawan pada 2021. Ia memulai sebagai Supervisor Safety di Departemen EHS, sebuah peran yang justru memberinya sudut pandang penting tentang keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas tambang. Namun, panggilan utamanya datang ketika ia berpindah ke Mining Department sebagai Mine Plan Engineer pada 2022. Di situlah putra asli Kotamobagu ini menemukan tempatnya. Dunia perencanaan tambang yang penuh analisis, strategi, dan ketelitian menjadi ruang di mana ia bisa berkembang secara maksimal. Hingga akhirnya, pada Februari 2024, ia dipercaya mengemban peran sebagai Senior Mine Plan Engineer.
Ketertarikannya ternyata berawal dari hal sederhana—cerita sang kakak yang pada 2018 lalu bekerja di dinas tambang Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Dari cerita itu, muncul rasa ingin tahu yang kemudian berkembang menjadi pilihan hidup.
Saat kuliah, ia semakin mantap memilih jalur ini, terutama ketika menjadi asisten praktikum perencanaan tambang. Disitulah ia memahami bahwa tambang bukan hanya tentang menggali, tetapi tentang bagaimana setiap langkah direncanakan dengan cermat.
“Mine planning itu seperti peta. Tanpa peta yang jelas, kita bisa berjalan, tapi belum tentu sampai ke tujuan dengan cara yang paling efektif,” ungkapnya.

Sebagai mine planner, peran Subiarto tidak selalu terlihat langsung di lapangan. Namun, setiap keputusan yang ia buat memiliki dampak nyata, mulai dari desain pit, urutan penambangan, hingga strategi produksi. Ia memastikan bahwa semua berjalan selaras: target tercapai, operasional efisien, keselamatan terjaga, dan keberlanjutan tetap menjadi perhatian.
Salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanan Subiarto terjadi pada tahun 2023. Saat itu, hingga pertengahan tahun, produksi masih berada di bawah target. Situasi tersebut menuntut langkah cepat dan keputusan yang tepat. Bersama tim, ia menyusun strategi percepatan di Pit Tapagale, dengan fokus pada akselerasi stripping waste di awal kuartal ketiga. Strategi ini membuka akses ke ore body yang sebelumnya belum optimal. Hasilnya, produksi perlahan meningkat hingga akhirnya target tahunan berhasil tercapai. “Itu jadi momen pembuktian. Ketika perencanaan, eksekusi, dan kerja sama tim berjalan seiring, hasilnya bisa benar-benar terasa,” ujarnya. Pencapaian tersebut tidak hanya berdampak pada angka produksi, tetapi juga menjadi fondasi bagi keberhasilan di tahun berikutnya. Sebuah bukti bahwa perencanaan yang tepat mampu menciptakan efek berkelanjutan.







