Kakao mengubah kebiasaan petani menyekolahkan anak. Bagi Hajan Paputungan, biayai kuliah anak berarti dua hal: berhutang atau menjual kebun. Kini dia tak perlu memilih keduanya.
PAGI baru saja membuka cahaya lembut tatkala rombongan wartawan peserta pelatihan jurnalistik Tempo Institute bersama PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) meninggalkan Hotel Sutanraja Kotamobagu, Jumat, 18 September 2026. Tujuan kami Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Sekira 45 menit perjalanan, pemandangan di luar jendela perlahan berubah. Memasuki Desa Bakan hingga Matali Baru, barisan rumah berganti hamparan kebun.
Saya menumpang di mobil teman, Candra Paputungan. Duduk di kursi depan, di sebelah pengemudi, membuat pandangan lebih leluasa.
Sesekali saya menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Batang-batang kakao berdiri di samping jalan. Daunnya rimbun, meneduhi buah-buah yang bergelantungan di sela cabang.
Setibanya kami di sebuah saung sederhana, Hajan Paputungan telah menunggu bersama para petani lainya. Warga Matali Baru lebih akrab memanggilnya Papa Aning. Dia adalah salah satu petani kakao binaan JRBM.
Hajan mengajak kami masuk ke kebunnya. Langkahnya tenang, tangannya sesekali menjangkau buah kakao, menyibak daun, memeriksa batang dan mengamati buah yang menggantung. Sebagian buah mulai menyemburatkan warna oranye. Pertanda panen tak lama lagi.
“Sudah puluhan tahun saya berkebun kakao,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi dari cara Hajan memeriksa tanamannya, terlihat kebun tersebut bukan sekadar sebidang tanah tempat pohon-pohon tumbuh. Di sanalah hidupnya bertumpu.
Kami para wartawan memperhatikan kebun itu dengan rasa ingin tahu. Sebagian mulai membayangkan memiliki kebun kakao sendiri. Hajan kemudian bercerita tentang cara merawat tanaman, memilih buah, hingga mengenali perubahan pada pohon.
Selain mendengar, kami juga mencicipi buah kakao. Lapisan lendir atau pulp yang membungkus biji terasa manis, sedikit asam, dan menyegarkan. Tanpa terkecuali Philipus Parera, pemateri dari Tempo Institute, mengulum biji kakao di mulutnya sambil menganguk kepala “Hmmm,”.
Purwani Diyah Prabandari ikut mencoba. Biji kakao dijepitnya dengan telunjuk dan ibu jari. “Jangan dibuang bijinya,” kata Purwani.
Bagi Hajan, setiap buah yang menggantung di pohon punya cerita yang lebih panjang daripada sekadar rasa.
Dari kebun inilah dapur keluarganya mengepul. Kebutuhan rumah tangga dipenuhi. Anak-anaknya bersekolah.
Namun puluhan tahun menjadi petani kakao tak serta-merta membuat hidupnya berkecukupan. Dulu, kebun Hajan dipenuhi ratusan pohon kakao lokal.
Jumlah pohonnya banyak, tetapi hasilnya sedikit. Buahnya berwarna hijau dengan biji yang relatif kecil.
“Dulu di kebun ini kakao lokal, tapi hasilnya sedikit,” ujar Hajan.
Selama 14 tahun dia merawat tanaman-tanaman tersebut. Tahun berganti tahun, tetapi hasil kebun tak kunjung seperti yang diharapkan.
Kemudian datang 2019. Bersama program pendampingan kelompok petani kakao dari PT JRBM.
Saat itu Hajan dihadapkan pada sebuah pilihan: mempertahankan tanaman lama atau menggantinya dengan varietas yang dianggap lebih unggul.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. 22 Desember 2019, Hajan menebang seluruh pohon kakao lokal di kebunnya.
Kakao bertahun-tahun dirawat itu ditebang untuk memberi ruang bagi tanaman baru: Masamba Cacao Clone atau MCC 02.
Hajan menunjuk bagian-bagian kebun yang dahulu menjadi tempat tumbuh kakao lokal.
“22 Desember 2019, pohon kakao lokal semuanya saya tebang, lalu ganti dengan MCC 02, sebanyak 800 pohon,” katanya.
Warga setempat, menyebut kakao jenis itu MCC 45. Merujuk pada jumlah biji dalam satu buah bisa mencapai 45 biji.
Keputusan menebang ratusan pohon bukan keputusan kecil bagi seorang petani.
Tetapi Hajan memilih untuk memulai kembali.
Dari kebun yang pernah dipenuhi kakao lokal, dia tidak sekadar mengganti varietas tanaman.
Namun sedang mempertaruhkan beberapa tahun hidupnya pada kemungkinan, memberikan hasil yang lebih baik.
Masa Sunyi
Bagi petani yang menggantungkan hidup dari kebun, menebang pohon berarti menghentikan sumber pendapatan.
Itulah yang terjadi setelah Hajan menebang kakao lokalnya. Kebun yang sebelumnya dipenuhi pohon dan buah mendadak memasuki masa sunyi.
Tidak ada buah yang dipanen. Sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Begitu pula biaya sekolah anak-anaknya.
Pohon-pohon baru membutuhkan waktu untuk tumbuh. Hajan tahu, keputusan itu membuatnya harus menunggu.
“Yaaa modal nekat, walaupun hasil kebun tidak ada. Bismillah saja,” ujarnya.
Hampir setiap hari ke kebun. Membersihkan rumput, merawat pohon-pohon muda, memberikan pupuk, lalu kembali menunggu. Begitu seterusnya.
“Kebun ini seperti kantor saya. Setiap hari saya merawat kebun,” katanya.
Dia tidak bekerja sendirian. Dalam program pendampingan PT JRBM, Hajan bersama petani kakao lainnya mendapatkan pelatihan mengenai perawatan tanaman.
Mereka belajar menyambung pucuk bibit kakao, teknik yang diperlukan untuk mendapatkan tanaman dengan pertumbuhan dan produksi yang lebih baik.
Mereka juga diajari merawat tanaman pada masa pertumbuhan, termasuk memperhatikan kebutuhan nutrisi tanaman.
“Selama pendampingan PT JRBM, kita dibekali cara merawat tanaman, termasuk penggunaan pupuk organik,” terangnya.
Pelatihan itu kemudian dibawa Hajan ke kebunnya. Pengetahuan yang sebelumnya diperoleh melalui pendampingan dipraktikkan satu per satu.
Tidak ada hasil yang bisa dipetik dalam waktu singkat. Yang bisa dilakukan hanyalah merawat dan menunggu.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Pohon-pohon muda itu perlahan meninggi. Daunnya bertambah lebat. Batangnya menjulang nan kokoh.
Kebun yang sempat sunyi mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru.
Bagi Hajan, setiap perubahan kecil pada pohon adalah penanda bahwa keputusan pada 22 Desember 2019 itu mungkin tidak sia-sia.
Ketika Kakao Mulai Berbuah
Dua tahun adalah waktu yang panjang bagi orang yang menggantungkan hidup dari kebun. Selama itu, Hajan hanya bisa merawat pohon-pohon muda sembari menunggu sesuatu yang belum pasti.
Kemudian penantian itu mulai berbuah.







