Satu per satu pohon kakao yang dirawatnya mulai menghasilkan buah. Batang-batang yang sebelumnya hanya ditumbuhi daun kini mulai dipenuhi buah yang menggantung.
Panen pertama memang belum banyak. Hanya belasan kilogram kakao kering. Tetapi ukuran bijinya membuat Hajan semakin yakin bahwa keputusan mengganti tanaman lama bukan pilihan yang keliru.
“Panen perdana baru belasan kilo kering. Biji kakao juga besar-besar. Waktu itu harga per kilo Rp35.000,” katanya.
Bagi Hajan, hasil itu bukan semata soal berapa kilogram kakao yang bisa dibawa pulang. Ada keyakinan yang ikut tumbuh bersama buah-buah pertama tersebut.
Ia teringat pesan orang tuanya dahulu. Nasihat sederhana yang terus dibawanya selama menekuni pekerjaan sebagai petani.
“Kalau batanam musti di tanah supaya ba buah,” ucap Hajan meniru nasihat orang tuanya dulu.
Jika menanam, kata Hajan, tanamlah di tanah agar kelak berbuah. Jangan menanam di hati, sebab yang tumbuh hanya menjadi buah pikiran.
Nasihat itu kini terasa berbeda baginya.
Dulu, ketika melihat kebun kakao yang tumbuh bagus, Hajan hanya bisa membayangkan memiliki kebun serupa.
Keinginan itu pernah berhenti sebagai angan-angan. Kini tidak lagi.
“Dulu saya melihat kebun kakao yang bagus, serasa ingin memilikinya. Namun sekarang keinginan itu menjadi kenyataan bagi saya,” ujarnya.
Di kebun itu, Hajan tak hanya melihat buah-buah kakao. Dia melihat hasil dari keberanian menebang 800 pohon, kesabaran menunggu selama bertahun-tahun, serta kerja yang dilakukannya hampir setiap hari.
Apa yang dahulu hanya tumbuh di pikirannya, kini benar-benar tumbuh di tanah yang dia rawat.
Mendadak Jadi Jutawan
Buah yang semula hanya belasan kilogram perlahan bertambah. Perubahan paling terasa pada 2024 hingga 2025. Ketika itu harga kakao melonjak, pendapatan dari kebun ikut terkerek.
“Pernah pendapatan saya sampai Rp60 juta per bulan. Saat itu harga naik Rp190.000 per kilo, bahkan terus naik,” ujarnya.
Angka itu terasa jauh dari masa ketika kebunnya hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Kakao yang dulu menjadi sumber penghidupan pas-pasan perlahan berubah menjadi sumber pendapatan utama.
Harga kakao tentu tak selamanya tinggi. Petani tetap berhadapan dengan harga yang bergerak naik-turun. Namun produksi dari kebun Hajan membuatnya masih memiliki pegangan.
Setiap sepuluh hari, sekira 100 kilogram kakao kering dipanen.
“Normalnya sekarang paling rendah Rp30 juta setiap bulan,” katanya.
Dari hasil kakao, awalnya hanya satu kebun kakao. kini dirinya memiliki kebun lebih dari 2 hektare. termasuk sudah produksi maupun masih dalam masa pertumbuhan.
“Total kakao sekira 2.000 pohon kakao. Ini jadi tabungan. Apalagi saat ini sudah berusia 60 tahun,” terangnya.
Kuliahkan Anak Tanpa Berhutang
Dari kebun itu, uang tidak hanya mengalir untuk kebutuhan dapur. Ada pengeluaran lain yang bagi Hajan jauh lebih berarti: biaya pendidikan anak-anaknya.
Dulu, ketika anak membutuhkan biaya untuk sekolah atau kuliah, Hajan harus mencari jalan dengan sumber daya yang terbatas. Ada dua pilihan yang kerap muncul di kepalanya: berutang atau menjual kebun.
“Sebelum ada kakao, membiayai anak sekolah ada dua, berhutang atau menjual kebun. Alhamdulillah hasil kakao memudahkan ongkos anak kuliah,” tuturnya.
Mengucapkan tanpa nada berlebihan. Seperti seseorang yang sedang menceritakan perubahan dalam hidupnya dengan cara sederhana.
Namun di balik kalimat itu ada perjalanan panjang.
Ratusan pohon yang pernah ditebang. Dua tahun kebun belum menghasilkan. Ada hari-hari ketika Hajan datang hanya untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, dan merawat tanaman yang belum bisa memberinya penghasilan.
Kini, pohon-pohon itu telah menjadi penyangga keluarganya.
Setiap buah yang dipanen bukan sekadar angka dalam catatan penjualan. Dari sana biaya kuliah anak-anaknya dibayar. Dari sana kebutuhan rumah tangga dipenuhi.
Hajan yang dulu khawatir, kebun menjadi sesuatu yang harus dikorbankan ketika kebutuhan keluarga mendesak. Kini justru kebun itulah yang membantu keluarganya bertahan tanpa harus kehilangan lahan.
Ia menanam kembali pada 2019 dengan modal nekat dan keyakinan.
Beberapa tahun kemudian, hasilnya tidak hanya tumbuh di batang-batang kakao.
Sebagian tumbuh menjadi kesempatan bagi anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kakao Penopang Ekonomi
Kisah Hajan bukan satu-satunya cerita yang tumbuh dari kebun-kebun kakao di sekitar wilayah lingkar tambang PT. JRBM.
Di Desa Bakan dan Matali Baru, perubahan itu berjalan perlahan. Pohon-pohon kakao yang dirawat petani mulai menghasilkan. Pengetahuan tentang tanaman bertambah. Sebagian petani bahkan mulai mampu membuat bibit sendiri.
Bagi perusahaan, hasil tersebut menjadi bagian dari tujuan yang lebih besar: menjadikan kebun sebagai sumber penghidupan yang dapat bertahan setelah program pendampingan berakhir.
“Kita berupaya agar petani di lingkar tambang menjadi petani yang mandiri secara ekonomi,” kata Chief Sustainability Officer PT JRBM, Anang Rizkani Noor.
Pengembangan kakao di Bakan dan Matali Baru, tidak berhenti pada pembagian bibit atau pendampingan di kebun. Dukungan diarahkan pada pengetahuan, sumber daya manusia, dan teknologi yang dapat digunakan petani.
Beberapa peralatan disiapkan untuk mendukung kegiatan pertanian. Termasuk mesin pengolah sabut kelapa menjadi cocopit dan cocofiber, serta fasilitas untuk membuat pupuk padat dan pupuk cair.
“Mulai dari mesin pembuat cocopit dan cocofiber, pembuatan pupuk padat maupun cair semua kita siapkan,” katanya.
Bagi petani, teknologi semacam itu menjadi bagian dari mata rantai yang selama ini tidak selalu mudah mereka kuasai.
Kebun menghasilkan bahan, sementara pengolahan dan pemanfaatan limbah dapat memberikan nilai tambah.
Di sisi lain, pengetahuan mengenai kakao terus diperbarui. Petani tidak hanya didorong menghasilkan buah sebanyak mungkin, tetapi juga menjaga kualitasnya agar dapat diterima pasar.
Sebab banyaknya hasil panen saja belum cukup. Kakao yang melimpah harus tetap memiliki mutu.
Di kebun, Hajan sukses menjadi jutawan. Cerita serupa perlahan tumbuh di kebun-kebun lain.
Dari tanah di sekitar lingkar tambang, perusahaan berharap sumber pendapatan baru itu tumbuh bukan hanya untuk satu musim panen, melainkan menjadi penopang ekonomi petani dalam jangka panjang.







